expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

The New Uchiha #11



Sasuke menoleh pada Sakura, mendapati ibunya telah duduk di samping gadis itu sekarang dan menggumamkan kata-kata menghibur.
"Biar aku yang menghubungi Shikamaru dan yang lainnya agar kembali ke sini." ucap Hideyoshi Shinji.
Sasuke hanya mengangguk, pikirannya berkecamuk.
Shinji melangkah keluar dan kembali ke dalam setelah beberapa menit, pria paruh baya itu berlutut di depan Sakura. "Apa dia pernah bertemu orang asing sebelumnya?" tanyanya dengan lembut.
"Tidak." Sakura menggelengkan kepalanya. "Dia bahkan tidak pernah berkeliaran sebelumnya."
Shinji mengatupkan bibirnya dan tidak mengatakan apa-apa untuk sesaat. Ia kemudian menganggukkan kepalanya dan bangkit, memandang sekilas ke arah Sasuke, yang menatap ke luar jendela, nyaris tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Beberapa menit kemudian, kelompok-kelompok itu mulai kembali ke rumah.
"Apa dia kembali?"
"Siapa yang menemukannya?"
"Dia baik-baik saja, bukan?"
Tampaknya semua orang berbicara bersamaan.
Shinji mengangkat tangan mengisyaratkan dan ruangan itu menjadi sunyi.
"Anak ini belum kembali. Tapi kami baru saja mendapat surat dari penculik." Shinji mengumumkan.
"Apa yang dia katakan?" tanya Shikamaru.
"Penculik itu mengatakan bahwa Nichi bersamanya, hanya itu." Shinji memberitahu mereka. "Siapa yang memimpin penyelidikan ini?"
"Aku," jawab Shikamaru. "Tapi kau senior di sini."
"Aku sudah tidak aktif." Shinji mengangkat bahu. "Shikamaru, ambil alih."
Shikamaru melangkah maju, mengambil amplop dari tangan Shinji. "Baiklah, Lee dan Utakata selidiki jejak di amplop dan tulisan tangan surat ini. Shino dan Kiba, temukan siapa yang mengirimkannya. Sisanya, sisir area, cari petunjuk. Penculik itu pasti sebelumnya berkeliaran mengawasi di dekat sini dan mencari kesempatan untuk mendapatkan Nichi. Dia pasti telah menyentuh sesuatu. Aku akan membawa keluarga ini kembali ke mansion Uchiha." Ia menoleh pada Shinji. "Bagaimana denganmu?"
"Aku akan kembali ke mansion bersamamu sampai kau selesai menyiapkan pusat komando." Shinji mengangguk. "Kita tidak tahu seberapa cepat pelakunya akan melakukan kontak kedua pada kita. Apa kau sudah menghubungi Kakashi?"
Shikamaru mengangguk.
"Baiklah. Aku yakin dia akan ke mansion sebentar lagi." ucap Shinji.
***
Setelah tiba di mansion, mereka segera masuk ke dalam. Shinji menoleh pada Shikamaru. "Kasus penculikan pertamamu?"
"Ya," Shikamaru mengangguk.
"Baiklah." Shinji menepuk pundak Shikamaru dan kemudian berbalik ke arah Sasuke. "Kita akan membutuhkan tempat untuk mendirikan pusat komando. Kita akan membutuhkan meja, koneksi apapun, internet, telepon, surat, dan sejenisnya."
Sasuke segera memanggil asistennya. "Nichi telah diculik oleh seseorang. Para polisi ada di sini untuk membantu menemukannya." jelasnya pada mereka.
Para asisten itu memandang cemas dan meremas tangan mereka.
"Dengar," Sasuke memerintahkan. "Aku ingin kalian berdua mengantar polisi ini ke ruang duduk. Bantu mereka mengatur apapun yang mereka butuhkan. Aku ingin kalian semua mengakomodasi apapun yang mereka butuhkan saat mereka bekerja di sini. Kertas, pena, telepon, komputer, makanan, minuman, tempat tidur, apapun yang mereka butuhkan." Kemudian ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan mereka untuk memulai.
Mereka segera membimbing Shikamaru dan Shinji ke ruang duduk.
Sasuke berbalik. Ibunya berdiri di dekat perapian, memeluk dirinya sendiri. Sakura berdiri di tengah ruangan, wajahnya benar-benar kosong.
Sasuke berjalan dan meraih tangan Sakura, mengangkat kepala gadis itu dengan tangannya yang lain sehingga gadis itu menatapnya.
"Aku berjanji, kita akan mendapatkannya kembali. Apapun yang mereka inginkan, apapun yang terjadi, kita akan mendapatkannya kembali." Sasuke bersumpah.
Sakura mengangguk. "Dia pasti ketakutan."
Sasuke mengangguk setuju dan memeluk Sakura. "Tapi kita akan mendapatkannya kembali, dan semuanya akan baik-baik saja."
Terdengar bunyi mobil berhenti, dan Kepala Polisi Hatake Kakashi datang dengan dua polisi lainnya. Sasuke mengantar mereka ke ruangan tempat Shikamaru dan Shinji bekerja, lalu kembali ke ruang tamu utama bersama Sakura dan ibunya.
"Tidak ada dari kalian yang sudah makan malam." ucap Mikoto resah.
"Aku benar-benar tidak menginginkan apapun." Sasuke menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih, tapi aku juga tidak." Sakura setuju.
"Kalian harus makan." Mikoto bersikeras. "Kita harus tetap kuat agar kita bisa melakukan apapun yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan Nichi."
Mikoto memanggil Inki, asistennya, dan memintanya membawakan makanan ke ruang utama.
Kakashi, Shikamaru, dan Shinji kembali ke ruang utama tepat ketika Yamanaka Miyumi menyerbu masuk.
"Oh, Ya Tuhan," Miyumi bergegas memeluk Sakura." Kita akan melakukan semua yang kita bisa. Kita seharusnya tahu sesuatu seperti ini akan terjadi ketika Nichi terikat dengan dia." Ia menoleh dan menatap Sasuke dengan tatapan tajam. "Shikamaru akan menemukannya, Sayang. Dan jika para polisi tidak mendapatkan siapa pelaku yang melakukan ini, aku..."
"Miyumi-basan," Shikamaru melangkah dan menarik wanita paruh baya itu dari Sakura. "Sakura mengajari Nichi bagaimana cara menelepon. Mungkin akan lebih baik jika kau kembali ke rumah, kalau-kalau dia bisa lolos dari para penculik..."
"Oh, tentu saja kau benar," Miyumi menepukkan tangannya ke pipi Shikamaru. "Aku seharusnya memikirkan itu. Aku akan pulang dan duduk di dekat telepon. Kau harus menghubungiku begitu kau mendengar sesuatu, oke?" Shikamaru mengangguk. "Dan Sakura, sayang, apapun yang kau butuhkan, beritahu kami." ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Terima kasih untuk itu." Sasuke menghela napas.
Shikamaru mengangguk. "Dia kadang-kadang bisa sedikit galak jika kau tidak terbiasa dengannya. Dia bahkan bisa lebih galak jika kau sudah terbiasa dengannya."
"Baiklah," Kakashi memulai. "Kami perlu berbicara dengan orang tua anak ini, serta siapapun yang melihat anak ini hari ini. Aku membutuhkan kalian untuk mulai memikirkan siapapun yang mungkin memiliki dendam pada kalian, siapapun yang memiliki alasan untuk melakukan apa saja untuk menyakiti kalian. Kami juga tidak mengesampingkan kemungkinan itu bisa menjadi kejahatan karena adanya kesempatan, bahwa seseorang berada di tempat yang tepat pada waktunya untuk mengambil anak ini. Aku sudah menghubungi kontraktor meminta daftar semua karyawan mereka yang sebelumnya berada di lokasi."
Para polisi membagi tugas, Kakashi dengan Sasuke, Ibiki dengan Sakura, dan Shikamaru dengan Mikoto, masing-masing ke ruangan yang terpisah.
Setelah beberapa kali mengulangi jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama berulang-ulang dan membuat daftar siapa saja dan semua orang yang masih hidup yang pernah bertentangan dengan Sasuke, ia akhirnya diizinkan kembali ke ruang tamu. Bergabung dengan Sakura dan Mikoto yang sudah kembali.
Mikoto memaksa putranya untuk menelan sekitar setengah sandwich. Sebagian besar yang wanita paruh baya itu lakukan hanyalah mondar-mandir, sesekali melemparkan dirinya ke sofa dan menatap pada api di perapian sebelum rasa gugup menyergapnya dan ia mulai mondar-mandir lagi.
Satu jam kemudian, Kakashi masuk.
"Yang dipastikan bukan tersangka sejauh ini adalah keluarga Hyuga. Rupanya, Hanabi menyayat pergelangan tangannya hari ini. Dia dibawa ke rumah sakit. Tentu saja orang tua dan saudaranya pergi kesana juga. Beberapa polisi juga telah mengecek kesana langsung. Saudara tertua dan keluarganya sedang dalam perjalanan pulang dari liburan di Thailand. Mereka telah mendapatkan jadwal penerbangan tercepat untuk kembali ke Jepang. Sedangkan untuk sekretarismu, Janny Jonka, mengklaim telah bertemu dengan beberapa teman di sebuah pub setelah dia meninggalkan kantor, tapi kami masih menunggu konfirmasi. Tentu saja kami masih memeriksa semua kemungkinan, tapi pada titik ini, harapan terbaik kami adalah bahwa pelaku akan segera menghubungimu lagi."
Sasuke berterima kasih pada Kakashi atas usahanya, dan Kakashi kembali ke salah satu ruangan mansion yang dijadikan pusat komando.
Sepuluh menit kemudian, Hinata muncul di ambang pintu. Ia melangkah masuk ke ruangan.
"Bagaimana?" tanya Hinata.
Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kabar Hanabi?"
"Dia akan baik-baik saja, secara fisik." Hinata tersenyum tipis.
"Tapi?" Sasuke mengangkat alis.
Hinata memandang gugup ke arah Sakura dan Mikoto yang duduk di sofa. Ia menghela napas. "Dokter mengatakan dia harus menginap beberapa hari atau seminggu dan menjalani perawatan. Ayahku mengatakan bahwa dia hanya sengaja menjadi anak nakal dan dia akan belajar dengan tepat begitu dia menikah dan berharap bahwa ini tidak akan menghalangi pertunangannya dengan Shimura Danzo. Dan Hanabi mengatakan dia akan bunuh diri dan memastikan dia melakukannya dengan benar sebelum menikahi orang tua itu... dia tidak... sangat berhati-hati dalam berkata-kata."
Sasuke mendengus. "Aku yakin dia serius."
"Dan Konohamaru datang ke rumah sakit untuk menjenguknya." Hinata menambahkan. "Itu jelas tidak membantu apa-apa. Ayah hampir marah besar."
"Aku bisa membayangkannya." Sasuke setuju.
Hening sesaat, sampai Sasuke angkat bicara, "Dengar, aku mungkin tidak bisa membantu banyak tentang masalah Hanabi, tapi aku akan melakukan apapun yang aku bisa. Tapi untuk saat ini..."
"Ya, kau harus menjadikan Nichi sebagai prioritas pertamamu." Hinata mengakui. "Lebih baik aku pulang sebelum mereka datang mencariku. Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Tidak." Sasuke menggelengkan kepalanya. "Kami hanya menunggu penculik itu untuk menghubungi kami lagi. Terima kasih sudah datang."
Hinata mengulangi tawarannya untuk membantu apapun yang bisa ia tawarkan pada Sakura dan Mikoto, yang juga mengucapkan terima kasih atas kedatangannya dan mengakui tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk keluarga Hinata.
Setelah mengantar Hinata ke depan, Sasuke kemudian kembali dan duduk di samping Sakura, meraih tangan gadis itu.
"Kau benar-benar sesuatu yang sangat hebat, kau tahu itu?" Sasuke memberitahu Sakura. "Aku bersama Nichi dalam hidupku hanya dalam waktu yang begitu singkat dan aku merasa sangat kehilangan sekarang. Sedangkan kau sudah bersamanya sejak dia ada, dan kau benar-benar kuat."
"Aku hanya percaya kita akan menemukannya, dan dia akan baik-baik saja." ucap Sakura dengan suara tenang. "Aku tidak bisa membiarkan diriku berpikir negatif."
"Kau lebih kuat dari orang lain yang pernah kukenal." Sasuke melanjutkan. "Bahkan setelah apa yang kau lewati."
"Kau tidak tahu seberapa kuat dirimu sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan yang kau miliki." jawab Sakura dengan lembut.
"Yeah, kekuatanku telah diuji beberapa kali, dan aku gagal total." Sasuke mendengus.
"Kekuatan tidak selalu berdiri kokoh." Sakura memberitahu Sasuke. "Terkadang kekuatan itu cukup bengkok namun tidak patah."
"Aku tidak bengkok." Sasuke menggelengkan kepalanya. "Dan aku bukan hanya patah. Aku hancur."
"Terkadang kekuatan bangkit kembali setelah itu, mengumpulkan serpihan-serpihan yang hancur." jawab Sakura.
"Jangan mencoba menjadikanku semacam pahlawan, Sakura, karena aku bukan."
"Aku juga tidak akan mengatakan kau penjahat." ucap Sakura. "Kurasa kau hanya seseorang yang mencoba melakukan yang terbaik yang kau bisa dalam situasi seperti ini."
Sasuke mendengus. "Aku tidak suka dianalisis."
Sekitar pukul sepuluh malam, Hideyoshi Shinji masuk ke ruangan dan mengucapkan selamat malam pada mereka, ia berpamitan pulang karena harus melakukan tugasnya di tempat kerja di pagi hari, ia mengatakan bahwa ia juga akan melakukan apa saja untuk membantu. Ia menjabat tangan Sasuke, lalu tangan Sakura, lalu mencium tangan Mikoto, yang membuat Sasuke jengkel.
"Jangan bersikap tidak sopan, Sasuke-kun." Ibunya memperingatkan ketika Shinji telah melangkah pergi.
"Dia terang-terangan merayumu." Sasuke menggeram. "Suamimu baru meninggal dua minggu lalu. Benar-benar tidak senonoh."
"Tapi dia baik, dia pria yang sempurna." Mikoto mengerutkan kening.
"Sampai dia mulai menampar kakimu." Sasuke mendidih.
"Uchiha Sasuke!" Ibunya menegur.
"Oke. Aku akan diam sekarang." Sasuke menggerutu.
Tak lama sebelum tengah malam, seorang anggota polisi menemukan paket kotak berukuran sedang tanpa alamat pengirim di depan mansion. Para polisi melakukan hampir selusin tes pada paket itu sebelum akhirnya menyatakan aman untuk dibuka.
Di dalamnya ada ponsel kecil berwarna abu-abu.
Sasuke mendengus kesal. "Untuk apa penculik itu mengirim ponsel."
"Sebenarnya ini mungkin penting. Penculik itu mungkin ingin kita berkomunikasi dengan ponsel daripada surat. Dan kemungkinan besar, dia tidak mempunyai nomor ponselmu, Sasuke." ucap Shikamaru. "Kita harus menghubungi seseorang yang bisa melacak seseorang melalui ponsel."
"Shiranui Genma." Sasuke tiba-tiba berkata, melompat berdiri.
"Kau kenal Shiranui Genma?" Kakashi mengerutkan kening pada Sasuke.
"Siapa Shiranui Genma?" tanya Shikamaru dan Sakura.
"Dia seorang mantan detektif di kepolisian London. Baru bulan lalu dia kembali ke Jepang." jawab Kakashi. Ia menoleh pada Sasuke. "Kau benar. Genma mungkin bisa membantu kita dalam hal ini."
Kakashi mengambil ponsel itu dan mulai melangkah meninggalkan ruangan.
"Tunggu!" Sasuke meraih lengan Kakashi. "Kurasa aku butuh itu." Ia menunjuk pada ponsel.
"Beri kami beberapa menit untuk memeriksanya terlebih dahulu. Penculiknya tidak akan segera menelepon, karena dia pasti akan menunggu sebentar untuk memastikan kau menerima ponsel ini."
Kakashi dan Shikamaru kembali sepuluh menit kemudian. Membuat Sasuke dan Sakura melompat berdiri.
"Tidak ada hal yang bisa kutemukan dari ponsel itu." Kakashi mengangkat bahu. "Tidak ada jejak atau semacamnya. Sampai kita mendengar kabar dari Genma, yang bisa kita lakukan adalah menunggu dia... atau menunggu penculik itu menelepon." Kakashi menatap Sasuke dan Sakura, "Aku sarankan kalian berdua beristirahat."
"Kau tidak bisa seenaknya menyuruh kami tidur setelah tahu bahwa penculik itu bisa menelepon kapan saja." Sasuke melipat tangannya dengan jengkel.
"Aku sudah melakukan ini cukup lama sehingga aku berani bertaruh bahwa penculik itu tidak akan menelepon sebelum fajar." Kakashi memberitahu mereka. "Dia mungkin ada di tempat tidurnya, tidur nyenyak, tahu bahwa kalian semua akan terjaga. Itulah yang dia inginkan. Dia ingin kalian tegang, lelah, dan tidak dalam kapasitas penuh. Dalam kondisi pikiran seperti itu, kau akan membuat kesalahan, dan kau mungkin akan melewatkan hal-hal kecil yang dapat memberimu petunjuk tentang identitas penculik itu."
"Aku tidak peduli siapa dia!" Sasuke hampir berteriak. "Aku hanya ingin Nichi kembali! Aku akan membayar berapapun yang dia inginkan, dan dia bisa membelanjakannya kemanapun yang dia inginkan, asalkan dia mengembalikan Nichi dengan aman."
Kedua polisi bertukar pandang.
Shikamaru menunjuk sofa. "Kalian sebaiknya duduk dan biarkan dia berbicara lagi."
"Apa maksudmu?" tanya Sakura, duduk dan memiringkan kepalanya ke arah polisi dengan rasa ingin tahu.
Kakashi menunggu sampai Sasuke duduk di sebelah Sakura, lalu ia duduk di kursi di seberangnya. Shikamaru bersandar di sisi belakang kursi.
"Kita harus realistis tentang ini." Kakashi memulai. "Pertama, kau harus mempertimbangkan apa yang kau lakukan di sini. Jika kau membayar uang tebusan ini dan membiarkan penculik pergi, kau akan membuat hal ini terjadi lagi. Baik dengan penculik yang sama, atau orang lain, mereka bisa mendapatkan ide cemerlang bahwa cara untuk mengakses uang Uchiha adalah dengan mengambil anak ini, atau mengancam untuk membawanya. Kedua, begitu kau membayar penculiknya, kau tidak punya jaminan bahwa dia akan mengembalikan Nichi. Faktanya, kemungkinan akan lebih bagus jika dia tidak melakukannya. Semakin sedikit orang yang melihat wajahnya, semakin baik peluangnya untuk melarikan diri."
Wajah Sasuke tampak semakin pucat. "Jadi apa yang ingin kau katakan?" ucapnya. "Apa kau memberitahuku untuk tidak membayar penculik itu, karena kita tidak akan mendapatkan Nichi kembali?"
Suara isakan terdengar dari Sakura.
Sasuke buru-buru mengulurkan tangan dan meraih tangan Sakura seraya masih tetap menatap Kakashi.
"Tidak persis." Kakashi menggelengkan kepalanya. "Kita perlu memastikan bahwa kita menangkap orang ini, sebelum segala jenis tebusan jatuh ke tangannya, atau sesegera mungkin sesudahnya. Itu kesempatan terbaikmu untuk mendapatkan Nichi kembali, dan itulah taruhan terbaik kita untuk membuatnya tetap aman di masa depan."
Sasuke mengangguk, tapi tetap tidak terlihat lega.
"Kalau begitu, cobalah untuk beristirahat agar kalian bisa fokus ketika penculik itu menelepon." Kakashi mengangguk dan bangkit.
"Kau serius?" Sasuke mendengus. "Kau mengatakan sesuatu seperti itu pada kami dan mengharapkan kami tidur sekarang?"
"Maafkan aku." Kakashi memberi isyarat samar dengan tangannya. "Tapi kau perlu istirahat sekarang, demi Nichi."
Kakashi dan Shikamaru melangkah meninggalkan ruangan.
Mikoto berdiri. "Aku akan naik ke atas, dan mencoba tidur. Jika terjadi sesuatu, kirim asisten untuk membangunkanku."
Sasuke dan Sakura mengangguk, menggumamkan kata perpisahan mereka pada Mikoto.
"Aku tidak akan ke atas." Sasuke menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau penculik itu menelepon."
Sakura mengangguk. "Aku juga. Nichi pasti sedang ketakutan. Dia tidak pernah tidur tanpa bonekanya seumur hidupnya."
Sasuke menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, melepas sepatu, dan menaikkan kakinya ke meja. "Dia pasti ingin tidur dengan salah satu dari kita selama seminggu ketika dia kembali."
"Apa dia tidur denganmu saat aku di rumah sakit?" Sakura mengerutkan kening.
Sasuke mengangguk. "Itu mungkin bagian yang paling sulit dari merawatnya. Dia mengompol di malam pertama, karena aku tidak tahu bahwa aku seharusnya membawanya ke kamar mandi saat sebelum tidur. Malam kedua, aku terbangun dengan kakinya di atas wajahku."
Sakura tersenyum sedih. "Dia kadang-kadang bangun dengan kaki di bantal dan kepalanya di ujung yang lain. Atau kadang aku menemukannya dengan kepala di lantai dan kakinya masih di tempat tidur."
"Aku bisa percaya itu." Sasuke tersenyum pada Sakura. "Aku tidak tahu berapa banyak anak seumuran dia yang bisa makan banyak seperti dia."
"Dia makan dengan sangat baik." Sakura setuju. "Tapi dia cukup tinggi untuk anak seusianya, menurut dokter."
"Dokter?" tanya Sasuke. "Apa ada yang salah dengannya?"
"Oh tidak." Sakura meyakinkan. "Kau tahu, anak-anak harus pergi ke dokter untuk membantu imunisasi mereka dan memastikan kesehatan mereka."
"Tidak, sebenarnya aku tidak tahu." Sasuke mengangkat bahu. "Dia satu-satunya anak kecil yang pernah kukenal, sungguh."
"Dia pergi ke dokter dua kali setahun, hanya untuk pemeriksaan dan pencegahan, kecuali dia sakit." ucap Sakura. "Tapi dia jarang sakit. Dia sangat sehat."
"Itu bagus." Sasuke mengangguk. Jeda sejenak, "Dia akan marah jika dia tidak bisa mendapatkan keripik ikan."
"Mungkin." Sakura meletakkan kakinya di samping kaki Sasuke di atas meja. "Tapi dia bisa dibujuk dengan janji akan dibelikan lebih banyak keripik ikan."
"Dan sekotak marshmallow." ucap Sasuke. "Kita mungkin harus menyuapinya marshmallow."
"Apa kau benar-benar membelikannya setiap seri kereta Thomas the Tank Engine?" tanya Sakura.
"Aku membeli semua seri yang dimiliki toko mainan Twinkle." Sasuke mengangkat bahu.
"Itu terlalu banyak, Sasuke." Sakura menghela napas. "Dia tidak membutuhkan mereka semua."
"Kau tidak mau menerima uang itu." Sasuke melirik Sakura. "Jadi kenapa aku tidak boleh membelanjakannya saja untuk Nichi?"
"Karena aku tidak ingin dia tumbuh dengan perasaan manja, atau berharap segalanya tanpa bekerja untuk mendapatkannya." jawab Sakura.
"Seperti aku, maksudmu?" Sasuke menyeringai kecil.
"Aku tidak mengatakan itu." Sakura menggelengkan kepalanya, tapi sedikit senyum muncul di bibirnya.
"Baik, kalau begitu anggap saja hadiah Natal dan hadiah ulang tahun selama tiga tahun." Sasuke menyandarkan kepalanya lagi dan menutup matanya.
"Tapi jika kau membelikannya semua seri kereta sekarang, apa yang akan kau berikan untuk ulang tahunnya dan Natal tahun ini?" tanya Sakura, menguap.
"Sepeda?" Sasuke menyarankan.
Sakura menghela napas.
"Apa?" Sasuke membuka satu mata untuk melihat bagian atas kepala Sakura. "Aku mempunyai sepeda sejak aku cukup bisa berdiri."
"Ya, tapi memikirkan dia di atas sepeda hanya membuatku gugup. Terutama karena aku tidak bisa bersepeda dengan baik." Sakura melepas sepatunya dan menekuk kakinya ke bawah tubuhnya.
"Aku akan mengajarinya. Dan aku akan memastikan dia paham tentang keselamatan dan cara mengendalikannya. Kita akan memastikan dia mengerti bahwa jika salah satu dari kita melihat dia melakukan sesuatu yang berbahaya, dia akan dihukum. Secara harfiah." Sasuke berjanji.
Sakura menyandarkan kepalanya ke pundak Sasuke. "Kau tahu, Nichi benar. Kurasa kau akan menjadi ayah yang baik."
"Aku sudah memberitahunya..." Sasuke menatap Sakura, tapi gadis itu sudah tertidur.
Sasuke meraih selimut yang disampirkan dibelakang sofa oleh ibunya tadi, menyampirkannya di sekeliling mereka berdua, dan kemudian turut menutup matanya.
***
Sasuke dibangunkan oleh suara-suara menjengkelkan yang baru ia dengar selama hidupnya.
Ia membuka matanya dan menemukan helai-helai merah muda menutupi pandangannya.
Ia mencoba mengangkat tangannya ke wajahnya, tapi ternyata tangannya tertaut dengan tangan pemilik rambut merah muda itu.
Ia perlahan menarik tangannya lepas, berkedip beberapa kali sampai pandangannya menjadi agak fokus. Pergerakannya membuat Sakura turut terbangun disampingnya.
Ia telah tertidur di sofa di ruang utama bersama Haruno Sakura sementara enam polisi berdiri di depan mereka.
Sebelum Sasuke bisa memproses pikirannya yang kacau tentang apapun yang terjadi, Shikamaru berbicara cukup keras di depannya.
"Ayo cepat, Uchiha! Kau harus menjawabnya! Pasti ini penculiknya!"
Seketika semuanya terasa masuk akal.
Sasuke akan meraih ponsel di tangan Shikamaru, tapi Kakashi menekankan satu jari ke bibir untuk memperingatkan semua orang agar diam, dan menekan beberapa tombol di ponsel itu. Ia kemudian mengulurkannya pada Sasuke.
"Halo!" ucap Sasuke tajam.
"Uchiha." suaranya terdengar santai, suara seorang pria. "Aku punya sesuatu... atau harus kukatakan, seseorang, yang sebenarnya milikmu."
"Biarkan aku bicara dengan Nichi!" Sasuke menuntut. "Aku tidak akan melangkah lebih jauh denganmu sampai aku tahu dia baik-baik saja!"
Ada suara gemerisik di ujung sana, dan kemudian sebuah suara kecil berkata, "Papa?"
Sasuke merosot lega, dan Sakura meletakkan tangannya di atas mulutnya agar tidak menangis.
"Aku di sini, Nichi. Mama juga ada di sini bersamaku." ucap Sasuke. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku tidak suka di sini, Papa." jawab Nichi. "Disini dingin dan aku lapar dan aku takut dan aku ingin pulang. Aku mengompol di celanaku tapi aku tidak sengaja karena tidak ada kamar mandi di sini."
"Tidak apa-apa." Sasuke meyakinkan. "Aku tidak marah. Aku hanya ingin orang itu membawamu pulang. Kau di mana?"
Ada lebih banyak suara gemerisik di ujung telepon, dan suara penculik itu kembali. "Kau sudah dengar, dia baik-baik saja."
Nichi mulai meraung di ujung sana. "Aku ingin bicara dengan Papa dan Mamaku. Aku ingin pulang! Aku tidak menyukaimu!"
"Diam dan biarkan aku bicara dengan ayahmu supaya kau bisa pulang!" teriak suara penculik itu.
"Dia ingin pulang." ucap penculik itu ke telepon. "Kau ingin dia pulang. Jadi mari kita buat kesepakatan, bagaimana?"
"Berhenti bersikap buruk padanya!" perintah Sasuke. "Dia hanya anak-anak, dan dia ketakutan. Beri dia makan dan rawat dia, dan aku akan melakukan apapun yang kau inginkan."
"Oh, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan." Pria itu tertawa. "Terserah aku mau merawatnya atau tidak. Kau ingin dia makan? Lakukan apa yang aku minta, dan kau bisa mendapatkannya kembali, lalu kau bisa memberinya makan."
"Kalau begitu, apa yang kau inginkan?" Sasuke mendengus.
"Aku ingin seratus juta dollar." jawab penculik itu.
"Apa kau gila?" Sasuke mendengus. "Apa kau tahu berapa lama untuk mengurusnya?"
"Itu bukan urusanku. Semakin cepat kau menebusnya, semakin cepat kau bisa mendapatkan mini-mu kembali." Suara itu terkekeh. "Aku akan meneleponmu kembali dalam tiga jam. Bersiaplah untuk memberitahuku seberapa cepat kau bisa menyiapkan seluruh uangnya."
Dan panggilan terputus.
Kakashi mengambil ponsel itu dan menyerahkan ke Ibiki. "Hubungi Genma, apakah dia bisa melacak nomor telepon dari penculik itu."
"Apa kau menemukan sesuatu tentang nomor teleponnya?" tanya Sasuke.
"Ini model prabayar." Kakashi mengangkat bahu. "Nama dan alamat yang diberikan ketika dibeli dan diaktifkan adalah palsu, tentu saja. Aku ingin kau menghubungi bank dan bertanya seberapa cepat kau bisa mendapatkan uangnya. Aku tidak berencana untuk benar-benar menjadikannya sebagai uang tebusan, tapi kita harus membuat penculik itu berpikir bahwa kau serius. Dia mungkin memiliki seseorang di dalam bank untuk memastikan apakah kau telah melakukan kontak dengan bank."
Sasuke mengangguk dan berdiri. "Tapi aku ingin kau mengerti, jika aku harus membayar uang tebusan, aku akan melakukannya. Aku tak peduli dengan uang itu. Aku hanya ingin Nichi kembali."
"Kau ingat percakapan kita tadi malam?" Kakashi melipat tangannya, tampak kesal.
"Ya, tapi apa kau tak dengar anakku berkata bahwa dia kedinginan, lapar, dan takut?" Sasuke menggeram.
"Kita akan mendapatkannya kembali." Shikamaru meyakinkan, duduk dan merangkul Sakura.
Sasuke menghubungi bank, meminta untuk berbicara dengan manajer.
Begitu ia terhubung, ia langsung bertanya seberapa cepat ia bisa mendapatkan seratus juta dollar.
"Dollar Amerika, dollar Kanada, dollar Australia, dollar Singapura...," manajer itu menyebutkan.
"Semua. Terserah. Apapun yang bisa kudapatkan paling cepat." ucap Sasuke.
"Jika kau mau mengambil dari semua kombinasi ini, kami bisa menyelesaikannya hingga pukul tiga sore nanti." jawab manajer bank.
"Bagus. Lakukan." Sasuke menginstruksikan, dan memutuskan telepon.
"Sekarang." Kakashi langsung berbicara begitu telepon berakhir. "Penculik ini pasti seseorang yang kau kenal. Dia tahu di mana keluargamu tinggal. Apa kau mengenali suara itu?"
Sasuke berpikir sejenak. "Suaranya benar-benar familiar, tapi aku tidak bisa mengingatnya."
"Pikirkan lagi. Ini benar-benar penting." Shikamaru menyarankan.
"Bisakah kau diam? Aku tahu aku harus berpikir!" Sasuke berteriak, melangkah mendekati Shikamaru.
"Tenanglah." Kakashi meraih lengan Sasuke. "Aku tahu ini adalah situasi yang menegangkan, tapi ini tidak akan membantu Nichi jika kita kehilangan akal sehat kita."
Ibiki tiba-tiba memasuki ruangan.
"Kau terlihat sangat bahagia." komentar Kakashi. "Apa yang kau dapatkan?"
Morino Ibiki menyeringai.
"Apa kau mendapat jejak pada nomor telepon itu?" tanya Kakashi.
"Tidak, ini prabayar, terdaftar dengan nama dan alamat palsu." Ibiki menjawab dengan acuh tak acuh. "Tapi, Genma bisa melacak toko tempat nomor ini dijual, karena mereka memiliki CCTV."
***
To be continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan :)